Minggu, 16 Agustus 2015

ETIKA KEPEMIMPINAN


          Di dalam sebuah organisasi diperlukan sosok pemimpin yang akan menjalankan fungsi kepemimpinan. Seorang pemimpin akan bertanggung jawab atas baik/buruknya organisasi yang dia pimpin. Beberapa pendapat mengenai arti kepemimpinan ini:
a.    Kepemimpinan adalah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok (George P Terry)
b.    Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum (H. Koontz dan C. O’Donnell)
c.    Kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan dan diarahkan melalui proses komunikasi ke arah tercapainya sesuatu tujuan (R. Tannenbaum, Irving R, F. Massarik)
Dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah upaya untuk mempengaruhi orang lain agar memiliki kemauan untuk mencapai tujuan bersama dan memastikan terjadinya kesatuan visi dalam sebuah kelompok.
Etiket kepemimpinan adalah cara-cara yang dianggap benar secara umum oleh sekolompok atau suatu komunitas masyarakat dalam upaya untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan bersama yang dimiliki oleh suatu organisasi. Tiga prinsip utama dalam etiket itu adalah:
a.    Respek, menghargai orang lain, peduli orang lain dan memahami orang lain apa adanya tidak peduli berbeda.
b.    Empati, meletakkan diri di pihak orang lain, sebelum bertindak harus berpikir apa pengaruhnya kepada orang lain.
c.    Kejujuran, harus menilai situasi dan kondisi di mana kita berkata tidak menyinggung atau mengorbankan orang lain.
Pepatah Arab yang terkenal di Indonesia mengatakan “Innamalumamu akhlaqu mas baiat ain humus jahabat akhlaquhum jahabu” yang artinya suatu umat akan kuat karena berpegang teguh pada moralitas yang ada namun apabila moral diabaikan maka tunggulah kehancuran umat tersebut. Pemimpin yang visioner adalah pemimpin yang memiliki kompetensi untuk mewujudkan visi organisasi secara bersama-sama dengan sumber daya manusia yang dipimpinnya. Pemimpin harus memiliki rethinking future, kewibawaan, menguasai masalah, dan mempunyai semangat membara dalam menyelesaikan masalah itu. Pemimpin itu harus memiliki moralketaqwaan yang mendorong pemimpin itu bersikap transparan dalam melaksanakan amanah yang diembannya.
Bila pemimpin memiliki nilai-nilai etika pribadi yang jelas dan nilai-nilai etika organisasi, maka perilaku etik adalah apa yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai tersebut sehingga Blanchard dan Peale mengemukakan saran untuk menjadi pemimpin etik:
a.    Berperilaku sedemikian rupa sehingga sejalan dengan tujuan anda, jalan yang memberikan makna dan arti hidup anda. Sebuah tujuan organisasi yang jelas juga akan memperkuat perilaku organisasi yang etik.
b.    Berperilaku sedemikian rupa sehingga anda secara pribadi merasa bangga akan perilaku anda. Kepercayaan diri yang diramu dengan kerendahan hati secara seimbang akan menumbuhkan keyakinan kuat saat anda harus menghadapi sebuah dilema dalam menentukan sikap yang etik.
c.    Berperilakulah dengan sabar dan penuh keyakinan akan keputusan anda dan diri anda sendiri.
d.    Berperilakulah dengan teguh, memiliki ketangguhan untuk tetap pada tujuan dan mencapai apa yang dicita-citakannya.
e.    Berperilakulah secara konsisten dengan apa yang benar-benar penting.
Secara umum etika sangat dibutuhkan di dalam kehidupan manusia. Baik buruknya dalam masyarakat bukan menjadi masalah pribadi tetapi menjadi kepedulian bersama suatu konteks besar. Dalam suatu organisasilah etika kepemimpinan sangatlah penting. Pemimpin harus membuat keputusan yang tidak hanya menguntungkan tetapi memikirkan pengaruhnya kepada masyarakat. Pemimpin yang baik akan mengaplikasikan nilai-nilai etika dalam gaya kepemimpinannya. Oleh sebab itu ia akan dihormati dan dikagumi karyawannya.
Beberapa komponen dari etika kepemimpinan beserta pentingnya;
a.    Ethical Communication, menetapkan standar kejujuran untuk setiap bahawannya.
b.    Ethical Quallity, bertanggung jawab dalam memipin, mengendalikan,dan mendanai dalam hal peningkatan kualitas.
c.    Ethical Collaboration, bijak berkolaborasi untuk menciptakan Best practice, memecahkan masalah dan menemukan isu-isu yang sedang dihadapi organisasi.
d.    Ethical Succession Planning, berprinsip memiliki/menuntut kebutuhan akan oengendalian, memberikan kesempatan kepada penerus untuk berlatih dan membangun kemampuan kepemimpinan mereka.
e.    Ethical Tenure, bekerja atas permintaan dari entitas, pelanggan, dewan direksi dan para pemegang saham.
Kita sering mengaitkan etika seseorang dari penampilannya. Karakter individu yang sebenarnya akan terlihat ketika individu itu berhadapan dengan tekanan, tantangan atau masalah. Kita bisa memanipulasi orang lain dengan kepintaran, pengalaman dan kekuatan penampilan luar tetapi kualitas hidup sebenarnya dari seseorang adalah waktu. Waktu adalah cara pengujian yang ampuh. Kita membutuhkan waktu untuk mengingat atau mengetahui karakter teman-teman kita.
Di dalam buku 7 Habits of Highly Effective Peeople Stephen R. Covey menjabarkan esensi perwujudan dari upaya kita untuk menjadi seseorang yang seimbang, runtuh dan kuat serta menciptakan sebuah tim yang saling melengkapi berdasarkan rasa menghormati yang menjadi prinsip dari karakter pribadi:
a.    Proactive,menyadari bahwa kita bertanggung jawab atas pilihan kita
b.    Start from the end, memberikan komitmen atas prinsip dan tujuan mereka
c.    Paut First thing First, mendahulukan yang utama
d.    Think win win, berusaha mencari manfaat bersama  dan saling menghrmati
e.    Effective Communication, berusaha memahami dulu, baru berusaha dipahami
f.    Synergy, pemecahan masalah, meraih peluang dan menyelesaikan perbedaan
g.    Sharpen the Faw, memperbaharui diri secara terus-menerus.
Empat karakteristik kepemimpinan pribadi:
a.    Panutan (hati nurani), menjadi contoh yang baik
b.    Perintis (visi), Bersama-sama menentukan arah yang dituju
c.    Penyelaras (disiplin): menyusun dan mengelola sistem agar tetap pada arah yang telah ditetapkan
Pemberdaya (gairah): memfokuskan bakat pada hasil, bukan pada metode, lalu menyingkir agar tidak menghalangi dan memberi bantuan jika diminta

Sumber : Buku Etika Karangan Satria Lubis

1 komentar: